Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Resensi Buku "Thinking, Fast and Slow" Ngupas Otak, Ala Kahneman

 

Buku Thinking, Fast and Slow

Kamu pernah nggak, merasa otakmu kadang kayak Formula 1, tapi kadang juga kayak becak yang lagi ngerem mendadak? Nah, kalau iya, mungkin kamu harus kenalan sama bukunya Daniel Kahneman, Thinking, Fast and Slow. Buku ini kayak ngajak kita jalan-jalan keliling otak sendiri, sambil ngopi santai di warung kopi, dan sesekali dikasih tamparan halus biar melek.

Daniel Kahneman, pemenang Nobel di bidang Ekonomi, ngajak kita buat memahami dua cara berpikir manusia yang dia sebut sebagai System 1 dan System 2. Gampangnya, System 1 itu otak kita yang cepet, intuitif, dan otomatis. Ibaratnya, kayak kita lagi lari dari anjing galak tanpa mikir panjang. Sedangkan System 2 itu otak yang lambat, logis, dan penuh pertimbangan, kayak lagi mikir beli rumah: mikir harga, lokasi, sampai cicilan yang bisa bikin kepala pusing tujuh keliling.

Buku ini penuh dengan eksperimen-eksperimen seru yang nunjukin gimana kedua sistem ini seringkali ngerjain kita. Contohnya, coba deh jawab cepat: “Seorang kelelawar dan bola harganya $1.10. Kelelawar harganya $1 lebih mahal daripada bola. Berapa harga bolanya?” Kebanyakan orang langsung jawab 10 sen. Padahal jawabannya 5 sen. Lihat kan, System 1 kita cepet banget, tapi sering salah. Baru System 2 yang mikir panjang bisa kasih jawaban yang bener.

Salah satu cerita yang bikin mikir adalah soal “Law of Small Numbers”. Kahneman ngasih contoh tentang bagaimana kita sering keblinger ngeliat pola dari data yang sebenernya kebetulan aja. Misalnya, kita lihat restoran yang selalu rame dan langsung mikir makanannya pasti enak. Padahal, bisa jadi itu cuma efek promosi atau lokasi yang strategis. Ini bikin kita ngerti bahwa kadang kita terlalu cepat bikin kesimpulan dari data yang belum tentu akurat.

Di buku ini, Kahneman juga ngupas tentang “Prospect Theory” yang dia ciptakan bareng temennya, Amos Tversky. Teori ini ngebahas gimana manusia cenderung lebih takut rugi daripada pengen untung. Jadi, kalau disuruh pilih antara dapet uang pasti $50 atau judi buat dapet $100 dengan risiko nggak dapet apa-apa, kebanyakan orang milih yang aman. Tapi kalo disuruh pilih kehilangan $50 pasti atau judi dengan risiko kehilangan $100 atau nggak kehilangan apa-apa, kebanyakan orang milih judi. Ini ngasih kita pelajaran penting soal kenapa sering kali keputusan keuangan kita nggak rasional.

Satu lagi, Kahneman juga ngebahas soal “Anchoring”, di mana kita sering kali terlalu dipengaruhi oleh informasi pertama yang kita dapet. Contohnya, kalau kamu lagi nawar barang dan penjualnya mulai dengan harga yang tinggi banget, kemungkinan besar kamu bakal nawar lebih tinggi dari yang sebenernya mau kamu bayar. Ini karena angka awal (anchor) yang dikasih bikin kita susah buat objektif. Ini kayak efek pertama kali kamu liat harga kopi kekinian, pas disodorin harga, kamu nggak bisa nggak kebawa suasana.

Thinking, Fast and Slow ini bukan sekedar buku psikologi yang berat dan membosankan. Kahneman punya cara bercerita yang bikin kita mikir, “Oh, iya juga ya!” sambil sesekali ngakak atau malah mengelus dada. Buku ini ngajak kita buat lebih sadar sama gimana cara otak kita bekerja dan gimana sering kali kita jatuh ke perangkap pemikiran yang nggak rasional.

Jadi, kalau kamu pengen lebih ngerti gimana cara otakmu bekerja, dan kenapa kamu sering bikin keputusan yang kadang nyeleneh, coba deh baca Thinking, Fast and Slow. Buku ini bakal ngebawa kamu ke perjalanan menarik ke dalam otakmu sendiri, sambil sesekali ngasih pencerahan yang bikin kamu lebih bijak dalam ngadepin hidup. Ingat, hidup itu kadang butuh mikir cepat kayak jet, tapi sering kali butuh mikir pelan kayak naik becak.

Posting Komentar untuk "Resensi Buku "Thinking, Fast and Slow" Ngupas Otak, Ala Kahneman"